Warna-warni Dunia Sinestesia

Warna-warni Dunia Sinestesia

medium.com

Senyumnya secerah mentari.”

Mendung hari ini terasa pahit.”

Bisa jadi, kita menganggap ungkapan di atas adalah metafora yang sering diucapkan oleh para penulis atau pujangga dalam tulisan mereka. Tapi tahukah kalian, sebenarnya, ada beberapa orang di antara kita yang “bisa” merasakan emosi yang berbeda setiap kali menyentuh tekstur benda. Bahkan ketika melihat angka tertentu, mereka melihatnya dengan warna yang berbeda-beda. Setiap kali mendengar nada tertentu atau melihat dan mendengar hari tertentu mereka melihat warna yang berbeda-beda.

Kondisi ini disebut synesthesia. Synesthesia adalah suatu kondisi di mana persepsi tercampur-campur, antara angka dan warna, nada dan warna, emosi dan tekstur benda. Bahkan tekstur benda tertentu menciptakan “rasa di lidah” yang berbeda. Dan ini bukan “penyakit”, melainkan “kondisi” otak yang kebetulan dimiliki sebagian kecil manusia di dunia.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Otak adalah salah satu organ yang paling sedikit dimengerti manusia. Sulitnya karena otak tidak bisa diteliti dalam keadaan mati. Dan umumnya manusia hidup (dan sehat) agak keberatan kalau otaknya dibuka-buka. Karenanya dalam neuroscience, seringkali pengertian tentang cara kerja otak didapat dari kasus medis, misalnya kasus stroke, tumor otak, kecelakaan dengan cedera kepala, dll. Ketika ada bagian otak tertentu yang rusak, barulah ilmuwan mempelajari apa efeknya terhadap persepsi dan perilaku. Hanya belakangan saja ditemukan teknologi MRI, brain scan, dll., tetapi ini semua masih harus dikombinasikan dengan kasus-kasus medis. VS Ramachandran adalah salah satu neuroscientist yang bekerja dengan banyak pasien, dan kemudian menulis buku tentang penemuannya mengenai otak dari pengalaman beliau.

curiosity.com

Menurut VS Ramachandran, kondisi ini relatif baru-baru ini diakui dunia medis. Dahulu seringkali kondisi ini dianggap gangguan jiwa, schizophrenia, atau sekadar mencari perhatian. Melalui berbagi metode tes yang genius, Ramachandran membuktikan bahwa fenomena ini riil, tidak dibuat-buat.

Synesthesia adalah salah satu fenomena anomali yang terjadi pada indera manusia. Synesthesia berasal dari kata dalam bahasa Yunani “syn” yang artinya “bersama”, dan “aisthēsis” yang artinya “sensasi”. Para pemilik kemampuan ini, yang disebut sebagai “Synesthetes”, akan mengalami apa yang disebut blending senses atau crossing sense atau “percampuran” indra. Ketika salah satu indra menerima rangsangan, misal indra pendengaran (telinga), rangsangan ini akan memacu reaksi indra yang lain, misal indra penglihatan (mata). Jadi, suara yang didengar sebelumnya, akan berefek visual bagi para Synesthetes, misalnya dalam bentuk gelombang-gelombang warna. Dan ini bukan semacam halusinasi, karena “sensasi” yang dialami para Synesthetes akan konsisten, misalnya notasi F akan selalu berwarna Merah atau notasi C akan selalu berwarna biru. Meskipun tidak menutup kemungkinan sensasi yang dirasakan Synesthete lain akan berbeda, misalnya untuk Synesthete satu, notasi F selalu berwarna Merah, sedangkan bagi Synesthete lain notasi C selalu berwarna coklat.

Jika seseorang mengatakan, minuman anggur rasanya persegi, angka lima kenyal seperti permen karet, hari Senin warnanya biru, atau nada-nada musik terlihat terbang di dalam ruangan. Paling-paling kita mengatakan, orang tersebut pengkhayal, pecandu ganja, atau obat bius LSD, atau bahkan orang yang tidak waras. Padahal, menurut penelitian para psikolog atau psikiater, satu dari setiap dua ribu orang, mengalami campuran persepsi semacam itu.

Orang-orang yang dapat melihat warna hari tertentu, atau merasakan keras atau lembeknya angka tertentu, digolongkan mengidap kondisi Sinestesia. Sebetulnya fenomena ini sudah ditulis secara ilmiah sejak 300 tahun lalu. Ditulis, pada abad ke 17 ada seorang tunanetra yang menyatakan mampu mendengar penyakit cacar air, yakni seperti bunyi terompet. Akan tetapi, hingga akhir abad ke 19, tidak ada penelitian sistematis mengenai sinestesia. Baru pada tahun 1883, ilmuwan Inggris, Francis Galton, melakukan penelitian dengan membandingkan persepsi para sinestetiker yakni pengidap sinestesia.

Galton menarik kesimpulan, bentuk sinestesia yang paling umum adalah fenomena mendengar warna. Memang kedengarannya amat janggal, warna dapat didengar. Hasil penelitian Galton cukup lama terlupakan dari dunia ilmu pengetahuan. Akan tetapi di akhir tahun 70-an, sinestesia ibaratnya ditemukan kembali oleh Dr. Richard Cytowic, pakar ilmu saraf dan peneliti otak terkemuka, pendiri rumah sakit Capitol Neurology di AS.

Kasus sinestesia pertamanya ditemukan secara tidak sengaja, pada tahun 1979. Ketika makan malam dengan seorang temannya, ia mendengar komentar, rasa ayamnya kurang banyak titiknya. Sebagai seorang dokter ahli saraf, Cytowic langsung bereaksi, dengan menanyai lebih jauh temannya tersebut. Dengan malu-malu, temannya mengakui, ia memiliki persepsi bentuk pada rasa makanan. Misalnya saja, ayam yang enak rasanya bentuknya terdiri dari banyak titik. Temannya juga mengeluh, banyak yang menyangka ia gila atau kecanduan narkoba, karena persepsinya yang tidak lazim itu. Ketika ditanyai lebih lanjut, temannya mengatakan ia merasakan persepsi bentuk dari rasa di manapun ia makan. Ternyata kelainan itu sudah diidapnya sejak lahir. Temannya juga mengeluh, tidak ada satupun dokter menganggap fenomena itu sebagai penyakit. Dr. Cytowic langsung teringat pada penelitian Galton mengenai gejala sinestesia. Ketika temannya diberitahu bahwa ia tidak sendirian, karena cukup banyak yang mengidap sindrom sinestesia, barulah temannya merasa lega.

Cytowic mengatakan, ada orang yang memiliki persepsi angka lima kenyal seperti karet, atau musik karya Beethoven rasanya asin, atau masakan yang enak bentuknya persegi dan rangkaian kesan lainnya, yang bagi orang normal terdengar aneh.

Seseorang yang mempunyai kondisi sinestesia memiliki koneksi antarbagian otak yang lebih kuat, khususnya wilayah otak yang mengatur tentang bahasa dan warna. Dengan semakin kuatnya koneksi antarbagian otak tersebut, memunculkan efek pelatuk di mana satu aktivitas di bagian otak akan memicu terjadinya pergerakan aktivitas di bagian otak lain.

Dengan begitu, setiap mendengar nada tertentu, seseorang akan melihat warna yang berbeda-beda, atau tiap seseorang melihat angka tertentu, akan selalu ada warna berbeda yang menyertai angka-angka tersebut.

Pada kasus lain, “Bau yang dicium memiliki bentuknya sendiri-sendiri, contohnya kotak untuk wangi udara segar, bau kopi adalah bulat, dan bau manusia adalah bulat dan kotak.”

Pengidap sinestesia di dominasi kaum wanita, sekitar 90% dikarenakan sinestesia diyakini bersifat turunan dan terjadi karena kelainan pada kromosom X. Sebagian besar orang snestesia cerdas dan kidal.

reddit.com

Tipe Synesthesia

Synesthesia memiliki berbagai macam bentuk. Karena merupakan “kombinasi” antara dua (atau lebih) macam indra.

  1. Grapheme-Color

Ini adalah salah satu bentuk synesthesia yang paling umum. Mereka yang mengalami synesthesia jenis ini akan mengasosiasikan/melihat huruf-huruf dan angka-angka sebagai warna tertentu. Meski kadang antarsynesthete ‘melihat’ warna yang berbeda, tetapi penelitian menunjukkan kalau sebagian besar Synesthete akan melihat warna yang selalu sama. Misal, huruf “A” selalu akan berwarna Merah. Jadi, huruf A sampai Z dan angka 0 sampai 9 punya warnanya masiing-masing, sekalipun huruf-huruf itu ditulis dengan satu warna, misalnya dengan bolpoin hitam.

  1. Sound-to-Color (Chromesthesia)

Ini adalah jenis Synesthesia yang dimiliki oleh Emma Coolidge dalam serial Amerika berjudul “Heroes” dan juga dimiliki oleh tokoh Riani dalam serial webtoon berjudul “Virgo and the Sparklings” karya Ellie Goh. Synesthete jenis ini akan memvisualisasikan suara sebagai pancaran warna. Suara-suara ini bisa berasal dari suara musik, klakson mobil, pintu yang ngejeblak, anjing menggonggong, piring jatuh, dsb. Warna yang terlihat dari suara-suara ini biasanya berbentuk seperti kembang api yang menyembur, lalu bergerak, lalu memudar seiring menghilangnya suara.

  1. Number-Form

Pemilik synesthesia tipe ini akan melihat semacam “peta” angka yang muncul secara otomatis dan tanpa disengaja, kapanpun mereka berpikir tentang angka. Ada yang mengatakan kalau synesthesia jenis ini diakibatkan dari “cross-activation” antar area di dalam ‘parietal lobe’ (bagian otak yang terlibat dalam pemahaman numerik dan spasial).

  1. Auditory-Tactile

Ini adalah salah satu bentuk synesthesia yang langka di mana para Synesthete jenis ini akan merasakan bahwa suara-suara tertentu akan memberikan reaksi fisik pada bagian-bagian tubuh.

  1. Mirror-Touch

Mirror-Touch juga merupakan bentuk synesthesia yang langka, di mana seseorang akan mengalami sensasi fisik yang sama seperti yang orang lain rasakan. Misalnya, ketika dia melihat seseorang ditepuk bahunya, maka dia juga akan merasa ditepuk bahunya (secara involunter). Orang-orang dengan synesthesia jenis ini dikatakan memiliki tingkat empati yang lebih besar dari kebanyakan orang lainnya.

  1. Lexical-Gustatory

Bentuk synesthesia lain yang juga sangat langka. Pemilik Synesthesia tipe ini akan mampu “mengecap” kata-kata. Yup, setiap kata yang mereka dengar akan menimbulkan sensasi rasa yang berbeda, misalnya kata “belajar” menimbulkan rasa pahit atau kata “bermain” menimbulkan rasa lembut. Tapi, rasa yang dirasakan oleh pemilik synesthesia tipe ini terbatas pada rasa-rasa yang pernah mereka rasakan. Dengan kata lain, jika seorang synesthesia jenis Lexical-Gustatory tidak pernah merasakan rasa strawberry, maka tidak akan ada kata yang terasa seperti strawberry.

Penyebab    

Penyebab timbulnya sinestesia ini masih belum diketahui secara pasti. Laporan menunjukkan bahwa 1 dari 2.000 orang mengalami satu bentuk sinestesia. Beberapa peneliti menyatakan bahwa sebenarnya setiap orang dilahirkan dengan kemampuan ini, tetapi seiring dengan pertumbuhan manusia, “batas-batas” yang memisahkan sensor indera dalam otak akan semakin jelas. Namun, pada para Synesthes, “batas-batas” ini entah bagaimana masih “terkoneksi”. Pada sinestesia jenis Grapheme-Color misalnya, pengalaman melihat warna saat melihat huruf/angka (grapheme) dapat diakibatkan oleh cross-activation pada area otak pengenal huruf/angka dan area pengenal warna.

Banyak Synesthes (istilah untuk pemilik kondisi ini) yang menolak untuk “disembuhkan”. Ada beberapa kasus di mana obat antidepressant ternyata menghilangkan synesthesia secara temporary, dan hal ini dianggap suatu “kehilangan” oleh pengguna obat tersebut. Menurut mereka, dunia menjadi “hambar” ketika kondisi mereka “sembuh”. Bagi mereka, kondisi ini tidak mengganggu sama sekali, karena sudah terbiasa bertahun-tahun, dan kita yang tidak memiliki kondisi ini tidak bisa membayangkan sama sekali seperti apa rasanya.

Unik, ya, kondisi sinestesia ini. Banyak warna dan persepsi lainnya!

[]

https://henrymanampiring.com/2011/05/01/dunia-ajaib-synesthesia/

http://shujinkouron.blogspot.com/2015/05/synesthesia-kemampuan-melihat-bau.html

https://ferydyan.blogspot.com/2014/06/kemampuan-melihat-suara-itu-nyata.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s